Perbarindo ingin NPL BPR di bawah 6% di akhir tahun

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membukukan kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) semakin menggeliat. Lihat saja, penyaluran kredit pada Mei 2018 mencapai Rp 94,25 triliun. Tumbuh 9,03% yoy dari priode yang sama tahun lalu di Rp 86,44 triliun

Tak hanya itu, himpunan dana pihak ketiga atau DPK tumbuh 9,96% yoy dari posisi Mei 2017 Rp 78 triliun menjadi Rp 85,77 triliun di Mei 2018.

Meski demikian, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) masih 6,91% pada Mei 2018. Tidak berbeda jauh dengan posisi Mei 2017 sebesar 6,95%.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto memprediksi pertumbuhan kredit BPR mencapai 9,8% yoy pada semester 1-2018.

“Data kinerja Juni belum ada, masih ada Mei 2018. Namun kami optimis kredit masih bisa tumbuh 10-12% hingga akhir tahun. Ada tugas aspek pendorong pertumbuhan kredit ini,” ujar Joko kepada Kontan.co.id pada Sabtu (11/8).

Menurut Joko pendorong penyaluran kredit di BPR lantaran memiliki pasar UMKM yang bersifat grass root pada sektor perdagangan. Artinya meski daya masyarakat belum pulih, namun selalu ada permintaan.

Aspek kedua, lantaran pembiayaan konsumer terhadap rumah kecil dan renovasi rumah Ketiga pada jasa di mana tren ojek online mendorong kredit kepemilikan kendaraan bermotor.

“Jasa ini memberikan kontribusi di bawah 10% terhadap kredit saat ini. Kita berharap dapat berkontribusi 10% hingga akhir tahun,” ujar Joko.

Joko juga mengupayakan agar BPR yang berjumlah lebih dari 1.360 bank di Indonesia menekan NPL hingga 5-6% pada akhir tahun. Walaupun ia sadar rasio yang baik berada di posisi di bawah 5%.

“Bencana alam seperti Bali dan Nusa Tenggara Barat akan mengkontraksi NPL. Kita akan mendata dampak ekonomi dan pontesi NPL untuk meminta relaksasi NPL khusus daerah terdampak bencana ke OJK,” jelas Joko.

Tujuannya memberikan kesempatan bagi nasabah untuk memulihkan ekonomi terlebih dahulu. Selain itu agar tidak memberatkan BPR terdampak.

Agar dapat menekan NPL, Joko meminta BPR agar lebih teliti memberikan kredit dan meningkatkan pola pembinaan.

Pada sisi DPK, Joko ingin meningkatkan biaya dana murah atau tabungan. Sebab per Mei komposisi tabungan masih 30,75%. Sedangkan himpunan tabungan tumbuh 9,41% yoy menjadi Rp 26,37 triliun. Sedangkan deposito tumbuh 10,18% yoy menjadi Rp 59,39 triliun.

“Di akhir tahun, kami optimis tabungan bisa tumbuh antara 13-15% yoy. Sedangkan untuk deposito optimistis tumbuh 10-12%yoy. Total pertumbuhan DPK sebesar 12%,” kata Joko.

Ia mengaku saat ini BPR sudah memiliki 11,1 juta akun tabungan dan 543.000 akun deposito. Jika dilihat lebih jauh loan to deposits ratio (LDR) BPR masih longgar di posisi 78,13%.

Meski terbilang bagus, Joko ingin dana lebih banyak lagi disalurkan lewat kredit. Targetnya hingga akhir tahun LDR di posisi 82-85%.

Langkah yang diambil dengan mempertahankan suku bunga kredit, meski bunga penjamin simpanan BPR naik ke 8,75%. Maka untuk mempertahankan laba dan efisiensi, BPR ingin lebih banyak menghimpun tabungan dari pada deposito.

“ROE Mei pada posisi 22,51%. Target sampai akhir tahun di 26-27%. Kita optimistis profitnya akan meningkat seiring dengan kenaikan kredit, efisiensi, dan perbaikan NPL,” pungkas Joko.