Foto: Jajaran manajemen dan direksi PT BPR Kedung Arto menyerahkan satunan kepada anak yatim piatu di sela-sela peringatan HUT ke 27 BPR tersebut di kantor Jl MT Haryono No 811 Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Arie Widiarto)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pengelola Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terus berbenah menyambut era digitalisasi keuangan atau financial technology (fintech). Apalagi tidak sedikit fintech tersebut menyasar pinjaman bagi segmen usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang selama ini menjadi pasar utama BPR.

”Persaingan kian ketat. Maka dari itu, untuk mengikuti perkembangan layanan berbasis teknologi, yang harus dilakukan BPR adalah dengan melakukan peningkatan layanan termasuk bagaimana mengikuti perkembangan teknologi yang ada,” ungkap Direktur Utama BPR Kedung Arto Dartho Supriyadi di sela-sela peringatan HUT ke-27  BPR tersebut di kantor Jl MT Haryono No 811  Semarang, kemarin.

Kegiatan HUT BPR yang berdiri pada 14 September ini diisi dengan berbagai kegiatan sosial seperti donor darah, berkunjung ke panti asuhan, ziarah ke makam pendiri yakni Imam Syafii, kunjungan ke karyawan yang sedang sakit dan pengajian.

Lebih lanjut Dartho menjelaskan pihaknya  menyadari bahwa di masa mendatang, basis teknologi menjadi sebuah keharusan. Terkait hal tersebut, saat ini sarana dan prasarana termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) sudah dipersiapkan mulai dari sekarang.

”Sehingga ketika tiba saatnya dapat memanfaatkan basis teknologi guna memberikan produk dan layanan yang optimal bagi nasabah,” jelasnya.

Menurutnya BPR yang sebagian besar nasabahnya adalah sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kini sudah mengikuti perkembangan teknologi informasi. Maka, hal ini semakin mendorong BPR Kedung Arto untuk melakukan pembenahan dalam layanan berbasis teknologinya.

”Langkah yang akan dilakukan antara lain bekerja sama dengan vendor untuk transaksi pembayaran melalui telepon pintar (smartphone),” paparnya.

Terlebih, lanjut dia,  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengarahkan BPR menerapkan fintech. Namun, ia mengemukakan, BPR Kedung Arto yang memiliki kantor kas dan  cabang di berbagai kota di Jateng ini nasabahnya belum seluruhnya melek teknologi. Misalnya saja nasabah di kantor-kantor cabang yang ada di daerah pinggiran. ”Jadi meski ada fintech, layanan secara konvensional seperti tatap muka dan silaturahmi dengan nasabah tetap kami lakukan,” jelasnya.

Mengenai penyaluran pinjaman Dartho menyatakan sampai Agustus 2018 ini jumlah kredit yang diberikan mencapai Rp 126 miliar atau 105% dari target.